Monday, 16 February 2009

Aku dan Dia

Aku dikenalkan oleh seorang teman untuk sebuah kepentingan. Aku berkenan untuk menggunakan jasanya menggambar.

Dia tampak menyenangkan diawal pertemuan. Gairah akan menemui seseorang yang nyaman berkeluaran diudara. Aku terbius penuh pesona seorang lelaki beranak dua dan baru saja menjadi duda. Kami tak membicarakan halhal pribadi.

Pembicaraan mengalir tak bertujuan, ringan dan nyaman. Dia terasa menyenangkan. Hingga tiba saat aku mulai mengajukan angka dan batas pemberian hasil. Dia menjawab sekenanya. Menurutnya itu hanyalah hobby dan dia akan mengusahakan itu akan terselesaikan tepat waktu.

Waktu berlalu dengan telepontelepon tidak penting dan usahaku menggiringnya menyelesaikan hasil gambar tepat pada waktunya.

Banyak hal yang harus dilalui hingga dia menyatakan ok, sanggup. Aku hampir berteriak gembira saat itu. Namun tibatiba kabarnya adalah gejala tiphus menyergap, kemudian jantung, kemudian hujan turun terus menerus membuat frame tak kunjung kering. Kebutuhan akan cash, membuatku melunasi sesuai angka yang disepakati.

Aku berusaha bersabar, aku berusaha menelepon terus.
Dia tak pernah menerima teleponku.

Hingga kini, sebulan setelah aku bertemu dengan dia. Tidak ada informasi. Tidak ada jawaban.

Aku merasa seperti wanita hina, menelepon tiada henti dan Dia tak ada niatan untuk menjawab itu semua.

Aku dan dia.

Aku telah kehilangan semua pesonanya. Aku berharap masih bisa sabar bertemu dengannya.

No comments:

Post a Comment