Thursday, 26 February 2009

Disiplin Diri

Ini mungkin sebuah pelajaran yang harus menghantam pikiranku.
Menunda-nunda sesuatu itu tidak pernah menghasilkan hal yang baik. Aku jadi benci sama diri sendiri. Rasanya ingin menangis tersedusedu. Menunda ssesuatu selalu membuatku menjadi lalai akan hal lain.

Disiplin diri. Begitu ayahku mengatakannya dengan tenang dan santai. Disiplin itu dari diri sendiri, bukan dari orang lain.

Aku memerlukan aturan itu. Selama ini aku berjalan mengabaikan segala aturan. Aku dan duniaku yang tidak beraturan. Hasilnya adalah B E R A N T A K A N.
Menundanunda sesuatu juga membuat orangorang menjauh dariku.

Menunda itu membuatku kehilangan ketegasan sebagai seorang manusia. Aku sebenarnya bisa belajar dan bisa mengerti banyak hal. Namun karena perasaan malas yang bercongkol lama dan tidak ada yang mendorongku melakukan hal tersebut. Aku semakin tenggelam dalam kemalasan dan ketakberdayaan. Aku terjajah oleh kemalasanku sendiri.
Aku menjadi sangat kesal.

Moody tidak boleh mengendalikan dirimu. Karena sebenarnya otakmu itu mengendalikan semua gerak tubuhmu. Berpikir yang baik, postif dan professional. Berpikir teratur. Jangan terlalu banyak santai dan malas.

Ughhh... ini harus aku lakukan!!! haruss!!!

Program Disiplin Diri.

Berawal dari mulai segala sesuatu tanpa di tunda.
1. Shalat, tepat waktu jangan menunda karena kemungkinan akan lalai besar.
2. Buat program kerja, prioritaskan segala sesuatu yang bersifat TOP urgent.
3. Bekerja seefisien mungkin. Gunakan cara cepat, singkat dan memiliki hasil yang bagus. Untuk itu mulai banyak membaca.
4. Kurangi banyak gossip dan nongkrong tidak jelas.
5. Gunakan waktu sebaik mungkin. (karena semua orang bisa menggunakan waktunya itu dengan hasil yang baik bukan hanya membuangbuang waktu saja.

Ayyoo Semangat..!!

Disiplin selalu baik untuk kehidupan yang lebih baik.

Monday, 23 February 2009

aku sangat marah

Rasanya aku sangat Jahat!!

Entah mengapa rasanya cukup puas dengan mengajak orangorang untuk memakimaki dan memarahinya.

Aku sudah berada pada tahap ingin membuatnya ikut marah. Aku sangat marah.

Wednesday, 18 February 2009

Pengalaman besar

Ini adalah pengalaman terbesar dalam hidup. Tertipu dengan mudah tanpa perlawanan apapun. Tanpa adanya kesadaran apapun. Tertipu sebesar dua juta bukan hal yang manis.
Mungkin itu hanya dua juta, mungkin orang itu membutuhkan sekali uang dua juta.

Tapi rasa kesal itu menggelembung besar dan kemudian terjun bebas. Merasakannya membuat bulu kuduk merinding.

Ini adalah pengalaman besar.

Mempercayai orang tidak bisa hanya karena referensi dari seorang teman. Aku memang terlalu payah. Dua juta, mungkin hanya dua juta dengan nilai rupiah. Perasaan itu terasa menggumpalgumpal. Tak bisa mempercayai orang yang baru saja dikenal. Aku sebenarnya punya perasaan itu diawal. Dia terlalu payah. Bukan orang yang bisa langsung dipercaya. Karena seorang teman maka aku menebalkan rasa percaya itu.

Keinginan ini rasanya absurd, karena aku berharap dia bisa digiling dengan compactor berulang kali agar padat dengan tanah. Aku ingin menaruhnya didalam ruang kedap suara bersama sebuah lonceng besar yang bergaung kencang terus menerus sehingga gendang telinganya pecah dan berdarahdarah. Mungkin aku terlalu marah.

Maafkan aku Tuhan, dengan segala kelemahan akan amarah ini. Mudah-mudahan terbuka mata hatinya untuk bisa mengerti mengapa aku jadi semarah ini. Aku hanya ingin dia bisa memberikan informasi. Ada orang lain yang berada dibelakangku yang membutuhkan penjelasan. Penjelasan itu hanya bisa diberikan oleh dia.

Aku akan menjadi tameng orang-orang yang memerlukan penjelasan. Aku tidak akan membela dia. Mungkin aku akan mengembalikan uang orangorang yang merasa telah menanti begitu lama. Semoga saja uang yang telah diterima oleh dia yang membuatku merasa di tipu dapat berguna.

Mungkin saja ini adalah aku yang kurang amal.

Tuesday, 17 February 2009

Facebook

Sebuah update foto muncul dihalaman utama facebook yang terpampang dilayarku.
Aku merasa takjub. Foto itu terdiri dari dua orang yang menggunakan baju hitam dan berdiri dengan pongahnya.

Orang pertama berambut sebahu dengan kacamata diatas kepala menahan rambutnya. Orang yang lainnya berdiri dengan tangan terlipat didepan perutnya yang tambun dengan rambut cepak. Aku merasa darahku sedikit mendidih. Aarghhhhh..!!

Orang ini kucari terus menerus, aku tak menemukannya. Teleponku tidak diangkatnya. SMSku tidak dibalasnya, bahkan message di facebook dimentahkannya.
Aku sangat sabar menghadapi ini. Bwuahhhh...!!! Palsu, aku seball setengah mampuss..!!
Mungkin aku bukan orang yang bertipe mengeluarkan nama-nama anggota kebun binatang
tapi aku ingin sekali marah. Susah sekali menjadi orang yang disepelekan disini. Marah pun tidak dianggap. Aku hanya bisa diam.

Dia tampak berdiri dengan pongah, kacamata diatas kepalanya. Ingin sekali aku mengambil kacamata itu lalu mencongkel kedua bola matanya dengan garpu. Perlahan, sambil mendengar dia berteriak ampun dan mengatakan maaf.

Aku cukup gila. Dia tidak bisa sepelekan aku.

Monday, 16 February 2009

Aku dan Dia

Aku dikenalkan oleh seorang teman untuk sebuah kepentingan. Aku berkenan untuk menggunakan jasanya menggambar.

Dia tampak menyenangkan diawal pertemuan. Gairah akan menemui seseorang yang nyaman berkeluaran diudara. Aku terbius penuh pesona seorang lelaki beranak dua dan baru saja menjadi duda. Kami tak membicarakan halhal pribadi.

Pembicaraan mengalir tak bertujuan, ringan dan nyaman. Dia terasa menyenangkan. Hingga tiba saat aku mulai mengajukan angka dan batas pemberian hasil. Dia menjawab sekenanya. Menurutnya itu hanyalah hobby dan dia akan mengusahakan itu akan terselesaikan tepat waktu.

Waktu berlalu dengan telepontelepon tidak penting dan usahaku menggiringnya menyelesaikan hasil gambar tepat pada waktunya.

Banyak hal yang harus dilalui hingga dia menyatakan ok, sanggup. Aku hampir berteriak gembira saat itu. Namun tibatiba kabarnya adalah gejala tiphus menyergap, kemudian jantung, kemudian hujan turun terus menerus membuat frame tak kunjung kering. Kebutuhan akan cash, membuatku melunasi sesuai angka yang disepakati.

Aku berusaha bersabar, aku berusaha menelepon terus.
Dia tak pernah menerima teleponku.

Hingga kini, sebulan setelah aku bertemu dengan dia. Tidak ada informasi. Tidak ada jawaban.

Aku merasa seperti wanita hina, menelepon tiada henti dan Dia tak ada niatan untuk menjawab itu semua.

Aku dan dia.

Aku telah kehilangan semua pesonanya. Aku berharap masih bisa sabar bertemu dengannya.

Malam yang membosankan

Malam itu dering suara handphone membangunkan aku yang nyenyak.
Bukan suara handphoneku, itu suara handphone seseorang yang aku sayangi.

Tergesa dia bangun dan menerima telepon itu. Aku berusaha menutup mata kembali dan tak bisa, karena aku medengar suara seorang lelaki yang begitu jelas dari speaker phone walaunya dia berusaha mengecilkan volumenya.

Dia tak bersuara, dan lakilaki itu terus bicara. Bicara entah apa aku tak mengerti. Karena dia yang berada disampingku hanya diam.

Ingin ku tulikan pendengaranku agar aku tak mendengar suara tawa lelaki itu dimalam sunyi ini.

Hatiku berontak ingin marah, tapi aku tak bisa. Aku berusaha tak tahu dan tak perduli.
Aku ingin sekali menghentikan telepon itu agar aku nyenyak. Hanya saja aku tak bisa, karena kurasa ada aura bahagia yang begitu memancar dari tubuhnya.

Rasanya pedih.

Aku berharap malam cepat beranjak dan pagi menyergap. Arrggghhh betapa aku benci dengan lelaki itu. Lelaki yang menelepon di tengah malam. Untuk apa? berusaha agar aku tidak tahu? berusaha menjalin kemesraan diamdiam dibelakangku?
Aku menjadi semakin ingin melakukan sesuatu yang bisa membuat lelaki itu lenyap selamanya. Dia yang berada disampingku terlena semakin jauh.

Pernah suatu malam dia katakan padaku kalau dia cinta mati dengan lelaki itu.
Aku tak bisa bicara, aku hanya diam dan rasanya mau mati. Tak cukupkah dengan segala perasaan dan perhatian dariku? Aku tak bisa melihatnya dengan kepedihan, tapi kebahagiaanya mengirisngiris hatiku. Dia menangis tergugu karena rasa rindunya tak tertahankan, membuat dadanya terasa begitu sesak.

Apa yang harus aku lakukan?
Aku begitu ingin agar lelaki itu pergi jauh dari hidupku dan hidupnya. Menemui jalan buntu.
Lelaki itu tak pernah berani menemuiku. Aku menantangnya. Siapa yang bisa membuat hidupnya bahagia? Aku tak percaya dia bisa. Karena lelaki itu begitu busuk.
Dia selalu mempermainkan perasaan orang yang terlena dengan bujuk rayunya, dengan kelakiannya. Mudahnya mendapatkan penggemar yang akan termehekmehek dengan bodohnya. Begitu mudahnya. Dari berbagai level, rendahan maupun berintelejensia dan sayangku terperangkap sebagai salah satunya.

Malam berlalu dengan penyiksaan yang membosankan.

Ketika pagi menjelang, wajahnya tampak lelah, tampak dari lingkar hitam matanya. Bibirnya menyungging senyum. dan kutahu, itu bukan karena ku.