Tuesday, 17 November 2009

"......"

Rasanya aku siap untuk terbaring menggeletak dan kau akan mulai untuk menjilati tubuhku, dari bagian tengah.. ya tengah, sentral dari segala sentral yang utama. Lalu akan kubiarkan kau menarik bola mataku yang kaku dan memakannya dengan lahap. Kemudian kau hirup darah yang mengalir dari mataku yang jatuh menetes di pelipis. Dan akan kau coba mencicip hidung bagai kan memakan sumsum dengan hisapan sempurna dan mengigit tulang rawannya dengan sangat nikmat.. ya nikmat.!!

Sebuah pisau besar dan garpu ditangan mulai membedah tubuhku menjadi bagian kecil-kecil yang bisa kau telan dengan satu gigitan. Melewati tenggorokan dengan mulus dan segera terpilah-pilah dalam usus besarmu.

Bisa kau teriakkan namaku sambil tertawa-tawa... apakah cukup nikmat untukmu?

Aku selalu ingin berbuat yang terbaik.. kau tahu itu.
Memberikan layanan sempurna adalah utama untukku. Mendapatkan senyuman dan kebahagiaan yang terpancar darimu adalah tujuan akhirnya. Tentu kau mengerti. Atau mungkin tidak.. tidak sama sekali.

Jiwa ini menggigil dengan segala yang terjadi saat itu.

Kau hamil.

Aku tak mengerti sama sekali, mengapa? Mengapa?

Kau berikan aku bisulbisul bernanah yang tidak pernah mau pecah dan rasa ngilu yang amat sangat. “apa salahnya??” teriakmu, “Aku mencintainya..”. Kau gerus hatiku dengan cobek batu padalarang yang dijual oleh anak-anak dibawah umur.

“Aku sudah besar, aku bisa tentukan jalan hidup sendiri. Punah saja kau dari hidupku....” Aku tergugu. Dirimu adalah salah satu alasan aku menjalani hidup yang dingin dan beku, yang selalu ingin mengeluarkanku dari bagian yang nyata.

“Apa cintaku tak cukup?” lirihku.

“Berhentilah katakan cinta padaku.. aku tak perlu. Aku adalah si Jelita yang bercahaya diantara kegelapan malam. Tentunya dari malam-malam mu yang sunyi dan membosankan. Dengar..! Aku beri kau nasihat... get a life..!!!”.

Kemudian kau pergi. Ya pergi meninggalkan aku yang merasa tak bisa sendiri karena hidup yang telah ku dedikasikan untuk dirimu. Untukmu..

Lalu kau menjelma serupa bidadari menari dengan perut yang semakin membuncit dan tubuh yang mengembang. Kau tampak berbeda, jelita.

Kau tertawa melihatku, “Hai kau yang tampak menyedihkan. Iya, kau.. bagaimana hidupmu?”

Aku salah tingkah. Aku tak bisa bicara. Bibirku terjahit sempurna.

Senyum jelitamu mencibir “Tak bagus tampaknya...” lalu kau tertawa berderai-derai hingga air mata menetes di pipi.

Aku berubah menjadi badut menangis. Dengan dandanan aneh dan rambut keriting warna-warni, bertubuh tambun, berjalan tak jelas seperti melayang-layang. Apa yang harus kukatakan, aku merasa hancur. Kau berjalan dengan anggun. Tak perduli kasak kusuk orang yang membicarakanmu di belakang.

Kau hamil tanpa ikatan pernikahan. Sesuatu yang menurutmu sangat kuno dan ketinggalan jaman. Hanya saja tak semua orang berpikiran demikian.

Kau wanita yang entah ditegar-tegarkan atau hanya sekedar tak mau ambil peduli dengan segala yang ada disekitarmu. Aku tak bisa membedakan apakah kau malaikat atau hanya seorang pecundang yang akan jatuh dengan hanya menunggu waktu.

Apa yang akan kau lakukan didalam hidupmu? Selamanya seperti ini?
Kau beri aku nasihat ’get a life’, apakah hidup itu seperti yang kau jalani?

Aku bukan dirimu. Kau bukan aku. Kita bukan orang yang sama. Aku hanya ingin kau bahagia. Tampaknya kau bahagia dan mengapa aku merasa sedih? Karena hidupmu tak seperti bayanganku? Kau telah menentukan jalanmu. Itu yang kau ucapkan. Apa masih ada yang harus aku katakan lagi?

Aku melihat ular melingkar-lingkar didalam rahimmu. Entah apa yang kau kandung itu. Seketika aku bergidik ngeri.. kau jelita, apa sebenarnya yang ada dalam dirimu? Kau telah bermetamorfosa tapi tidak menjadi kupu-kupu melainkan mahluk yang tak dapat ku kenali.

Walau darah yang mengalir ditubuhmu juga mengalir ditubuhku. Aku tak mengenalimu.

Tiba saatnya kandunganmu memuntahkan api panas dari magma di dasar tubuhmu. Aku tak mampu melihatnya. Sesuatu yang suci menurutmu. Tidak untukku. Kau tertawa saat melahirkannya dengan angkuh kau angkat ia ke atas bagai memegang trophy kemenangan. Entah apa yang kau menangkan. Menurutmu itulah lampu yang akan menerangi hidupmu.

Aku diam. Mungkin nanti kau akan mengerti, betapa perasaanmu itu tak jauh dari perasaanku saat kau keluar dari rahimku.

Aku hanya akan diam. Karena saat itulah aku rasakan kematian yang sempurna untukmu. Kematianku untukmu.


Kemang, 20 March 2007

No comments:

Post a Comment