Friday, 10 June 2011
Bukan siapa-siapa
Lihat, lelaki itu, ok lah ya..
Aku menemukan fotonya tak sengaja, oh, di e-mail lamaku. Dia bukan siapa-siapa... Oh, dia mantan pacarku.
Aku tak begitu yakin soal mantan, dia terlalu tampan untukku. Sepertinya begitu juga yang ada dipikirannya.
Beberapa waktu yang lalu entah mengapa id nya muncul kembali setelah tak pernah aku temukan online. Lucu, bahkan tak pernah dihapus.
Aku tertawa.
Rasa ingin tahu membuat aku menyapanya, hi.. tak kusangka dia menjawab. Setelah berbicara menanyakan kabar, aku tanya apakah dia tahu siapa yang menyapanya ini.
Dia tidak tahu, aku tersenyum.
Aku sebut namaku. Dia kembali bertanya. Aku tertawa, sudah ku sangka dia tak akan ingat.
Tak lama kemudian dia mengkonfirmasi, tempat tinggalku, diriku, hatiku yang dulu. Sekarang aku terdiam. Ah, ini tidak lucu.
Dan dia memulainya seperti dulu, meminta nomor teleponku. Mengajakku bertemu. Sungguh tidak lucu.
Meneleponku berkalikali. Menanyakan halhal kecil, sibuk? Sudah makan? Sesuatu yang biasa dilakukan dulu. Menelepon hanya ingin mendengar suaraku. Oh.. ini tidak lucu.
Aku ingin kuat. Aku yang memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan hubungan ini. Aku yang dulu tidak tahan dengan ketidakberadaannya disisiku. Aku yang merasa hatiku pedih karena dia datang dan pergi sesuka hati. Dia yang tidak pernah bisa kupegang katakatanya. Dia yang pernah memegang hatiku begitu kuat. Dia yang berusaha kembali memenangkan hatiku. Dia yang aku pilih untuk tidak lagi menghubungiku. Dia yang aku ingin untuk tidak lagi bersamaku. Dia.. lelaki sialan difoto itu.
Aku tidak bisa diperlakukan sama seperti dulu. Sudah ku bilang kalau dia mantan, kan?
Aku terima tantangannya bertemu, dia setuju. Sesudah 10 tahun, aku ingin tahu. Aku ingin menguji diriku.
Waktunya tiba. Dia tidak datang.
Entah mengapa hatiku terasa goyang. Aku tahu ini akan terjadi. Aku tahu.
Aku tahu dia tak akan kembali, aku tahu.
Aku tersenyum, walau aku tak bisa menggambarkan rasa hatiku ini lagi.
Ya, aku tahu dia pasti ingin bertemu. Waktu yang kupilih memang tidak tepat, dia tidak bisa meninggalkan anak istrinya hanya untuk seorang mantan pacar. Tak ada alasan yang bisa diucapkan untuk sekedar menemuiku sebentar. Dan kemudian aku tersenyum.
Dia bukan siapa-siapa, oh, mantan pacar.
No comments:
Post a Comment