Am I wife material?
Pertanyaan yang kemudian terngiangngiang. Akan terdengar lucu kalau pertanyaan ini terjadi ketika masih diusia belasan atau di awal duapuluhan. Bukan disaat ini.
Ya, saya hidup untuk diri saya sendiri (most of the time). Sesudah saya lihat dengan skala yang lebih luas, hidup saya itu ternyata terdiri dari orangtua dan juga adik saya. Tak kalah penting Oma dan sepupusepupu dekat. Juga tantetante dan omom saya. Ya, ternyata saya tak selalu sendiri karena orangorang ini warawiri bahkan tanpa sekehendak saya.
Temanteman saya yang terus terang membentuk hidup saya. Membuat saya bisa tibatiba menjadi sosok yang begitu hangat dan juga begitu dingin. Membuat saya merasa begitu sepi dan juga begitu ramai. Mereka yang tentunya berbeda dengan saya. Mereka yang ajaib ataupun saya yang mereka pikir ajaib.
Saya berbagi hidup dengan mereka hampir seumur hidup saya ini. Satusatu pergi dan yang lain datang. HIngga sampai pada sebuah pertanyaan, kapan kawin? Saya biasanya hanya tertawa. Atau melengos pergi. Atau berkata halhal yang penuh basabasi.
Am I wife material?
Saya tidak tahu dan mungkin tidak ingin tahu. Saya capek bertanya pada diri saya ini. Apa saya termasuk dalam kategori ini? Wife material? Kadang saya merasa tidak memerlukan lelaki dalam hidup. JIka saya merasa lelaki ini hanya membuat saya sebagai pelayannya, melayani di dapur dan kasur, untuk apa? Saya juga ingin dilayani. Apa kemudian saya berpikir agak materialistis? Mungkin. Karena jika ada lelaki dalam hidup saya, inginnya mereka bisa ikut serta meringankan beban dan bukan menambah beban.
Saat ini saya bisa menghidupi diri dan juga kerabat dekat. Walaupun banyak sekali orang berkata, kamu itu single kok ngga punya tabungan?
Well.. begitulah, ternyata banyak orang yang warawiri dalam hidup saya. Membuat saya tidak punya tabungan. Walau begitu saya tetap bisa menjalani hidup dengan senang.
Tinggal sendiri seperti ini menurut saya menyenangkan. Saya bisa melakukan apapun yang saya mau. Jika mereka complain, mereka bisa angkat kaki dari tempat saya. Karena ini area saya, daerah kekuasaan saya. Lebih baik lagi kalau mereka tidak usah menginjakkan kaki di tempat saya ini.
Halhal seperti ini yang rasanya merupakan tingkat tertinggi privasi saya. Betapa menyenangkan.
Lalu saya seperti tercubit dengan cubitan yang sakit dan perih. Wajah chubby kemerahan yang menggemaskan dengan mata yang berbinarbinar, mengambil hati saya dalam sepersekian detik. Wajah bayi mungil. Wajah itu seakan mengajak saya bermain didunianya. Penuh antusias memandang mata saya, mengisyaratkan keinginan untuk hidup. Berupaya bercerita dengan gerak tubuhnya, tangisnya, tawanya. Ah, saya jatuh hati.
Sesuatu yang luar biasa dari diri saya berkata, saya ingin memilikinya. Rasanya itu yang membuat saya kadang terharu ketika melihat wajah mungil itu memandang saya. Ah.
Bagaimana caranya saya bisa mendapatkan bayi mungil ini? Saya bahkan tidak memiliki pasangan yang bisa membantu saya untuk ini.
Itu membuat saya berpikir tentang wife material. Saya memang tidak punya banyak pacar. Ada beberapa orang yang dekat dan saya beberapa kali menjadi salah satu opsi untuk dinikahi. Selalu saja bukan saya yang menjadi pilihannya (atau menolak jadi pilihan?). Mereka kemudian menikah dengan orang yang terpilih. Membuat saya berpikir, am I wife material? Dan sampai saat ini saya tidak tahu atau mungkin tak ingin tahu.
Masih mimpi bersama wajah mungil yang lucu dan menggemaskan itu. Ah. Am I Mom material?
No comments:
Post a Comment