Rasanya aku siap untuk terbaring menggeletak dan kau akan mulai untuk menjilati tubuhku, dari bagian tengah.. ya tengah, sentral dari segala sentral yang utama. Lalu akan kubiarkan kau menarik bola mataku yang kaku dan memakannya dengan lahap. Kemudian kau hirup darah yang mengalir dari mataku yang jatuh menetes di pelipis. Dan akan kau coba mencicip hidung bagai kan memakan sumsum dengan hisapan sempurna dan mengigit tulang rawannya dengan sangat nikmat.. ya nikmat.!!
Sebuah pisau besar dan garpu ditangan mulai membedah tubuhku menjadi bagian kecil-kecil yang bisa kau telan dengan satu gigitan. Melewati tenggorokan dengan mulus dan segera terpilah-pilah dalam usus besarmu.
Bisa kau teriakkan namaku sambil tertawa-tawa... apakah cukup nikmat untukmu?
Aku selalu ingin berbuat yang terbaik.. kau tahu itu.
Memberikan layanan sempurna adalah utama untukku. Mendapatkan senyuman dan kebahagiaan yang terpancar darimu adalah tujuan akhirnya. Tentu kau mengerti. Atau mungkin tidak.. tidak sama sekali.
Jiwa ini menggigil dengan segala yang terjadi saat itu.
Kau hamil.
Aku tak mengerti sama sekali, mengapa? Mengapa?
Kau berikan aku bisulbisul bernanah yang tidak pernah mau pecah dan rasa ngilu yang amat sangat. “apa salahnya??” teriakmu, “Aku mencintainya..”. Kau gerus hatiku dengan cobek batu padalarang yang dijual oleh anak-anak dibawah umur.
“Aku sudah besar, aku bisa tentukan jalan hidup sendiri. Punah saja kau dari hidupku....” Aku tergugu. Dirimu adalah salah satu alasan aku menjalani hidup yang dingin dan beku, yang selalu ingin mengeluarkanku dari bagian yang nyata.
“Apa cintaku tak cukup?” lirihku.
“Berhentilah katakan cinta padaku.. aku tak perlu. Aku adalah si Jelita yang bercahaya diantara kegelapan malam. Tentunya dari malam-malam mu yang sunyi dan membosankan. Dengar..! Aku beri kau nasihat... get a life..!!!”.
Kemudian kau pergi. Ya pergi meninggalkan aku yang merasa tak bisa sendiri karena hidup yang telah ku dedikasikan untuk dirimu. Untukmu..
Lalu kau menjelma serupa bidadari menari dengan perut yang semakin membuncit dan tubuh yang mengembang. Kau tampak berbeda, jelita.
Kau tertawa melihatku, “Hai kau yang tampak menyedihkan. Iya, kau.. bagaimana hidupmu?”
Aku salah tingkah. Aku tak bisa bicara. Bibirku terjahit sempurna.
Senyum jelitamu mencibir “Tak bagus tampaknya...” lalu kau tertawa berderai-derai hingga air mata menetes di pipi.
Aku berubah menjadi badut menangis. Dengan dandanan aneh dan rambut keriting warna-warni, bertubuh tambun, berjalan tak jelas seperti melayang-layang. Apa yang harus kukatakan, aku merasa hancur. Kau berjalan dengan anggun. Tak perduli kasak kusuk orang yang membicarakanmu di belakang.
Kau hamil tanpa ikatan pernikahan. Sesuatu yang menurutmu sangat kuno dan ketinggalan jaman. Hanya saja tak semua orang berpikiran demikian.
Kau wanita yang entah ditegar-tegarkan atau hanya sekedar tak mau ambil peduli dengan segala yang ada disekitarmu. Aku tak bisa membedakan apakah kau malaikat atau hanya seorang pecundang yang akan jatuh dengan hanya menunggu waktu.
Apa yang akan kau lakukan didalam hidupmu? Selamanya seperti ini?
Kau beri aku nasihat ’get a life’, apakah hidup itu seperti yang kau jalani?
Aku bukan dirimu. Kau bukan aku. Kita bukan orang yang sama. Aku hanya ingin kau bahagia. Tampaknya kau bahagia dan mengapa aku merasa sedih? Karena hidupmu tak seperti bayanganku? Kau telah menentukan jalanmu. Itu yang kau ucapkan. Apa masih ada yang harus aku katakan lagi?
Aku melihat ular melingkar-lingkar didalam rahimmu. Entah apa yang kau kandung itu. Seketika aku bergidik ngeri.. kau jelita, apa sebenarnya yang ada dalam dirimu? Kau telah bermetamorfosa tapi tidak menjadi kupu-kupu melainkan mahluk yang tak dapat ku kenali.
Walau darah yang mengalir ditubuhmu juga mengalir ditubuhku. Aku tak mengenalimu.
Tiba saatnya kandunganmu memuntahkan api panas dari magma di dasar tubuhmu. Aku tak mampu melihatnya. Sesuatu yang suci menurutmu. Tidak untukku. Kau tertawa saat melahirkannya dengan angkuh kau angkat ia ke atas bagai memegang trophy kemenangan. Entah apa yang kau menangkan. Menurutmu itulah lampu yang akan menerangi hidupmu.
Aku diam. Mungkin nanti kau akan mengerti, betapa perasaanmu itu tak jauh dari perasaanku saat kau keluar dari rahimku.
Aku hanya akan diam. Karena saat itulah aku rasakan kematian yang sempurna untukmu. Kematianku untukmu.
Kemang, 20 March 2007
Total Pageviews
Tuesday, 17 November 2009
Wednesday, 4 November 2009
You're My Everything - Renegade
Rencananya mau menulis tentang buku yang baru saja dibaca eh ter distract berat sama lagu Renegade-You're my Everything yang lagi di dengerin di headphone ini.
Ya udah.. ganti judul You're My Evertything - Renegade.
Damn... mules sekarang dengerin lagu ini. Aneh, diriku masih merasakan vibe yang sama ketika mendengarkannya 15 tahun yang lalu. Huhuuhuhu, membaca bukubuku tentang cerita cinta yang bersatu, membuat diri ini tambah mules juga.
I must face it. He's not belong to me.
Cedih...
Kenapa ya? Sepertinya dia begitu kuat menanam akarnya jauhhhh didalam sana. Hingga walaupun telah dipangkas, dirobohkan dan ditarik sekuatnya untuk pergi, tibatiba saat bertemu maka akar yang mungkin tertinggal dan kecil itu tumbuh cepat melesat tinggi, subur dan rindang. Hanya dalam hitungan detik. Aku tak bisa mencegahnya, tak mampu. Mungkin juga ada unsur, tak mau.
Gila ya.. selalu saja ketika aku memulai perasaan yang baru, kalau ketemu orang ini semua hancur berantakan..!!
Coba kita list dia itu bagusnya apa...?
Tinggi, banget, itu yang bikin dia dilihat sama banyak orang, karena tinggiku hanya sebatas bahunya saja. Hikss.. dulu dia lebih kecil dariku, pernah sama tinggi denganku, sekarang dia tinggi sekali. Hhhhhh...! Somehow buatku dia selalu keren sih.
Kayaknya cuma itu yang bagus, yang lain biasa. Ahh.. tidak ada yang biasa tentang dia. Dia extraordinary, dia unik, dia aneh, freak..!
Aku suka.
Untuk bicara apa yang dirasakan saat ini, aku tidak tahu. Ini tidak jelas, sangatsangat tidak jelas. Brengsekkk!! Jangkrikkk Rebusss!!! Cangcorang itemmmm!!!
uwwwhhh... dia bahkan tidak punya perasaan itu lagi. Perasaan yang diakui pernah dirasakan saat bersamasama denganku dulu. Setidaknya dia tahu, kalau aku juga punya perasaan sama dengan dia. Saat itu, 15 Tahun yang lalu ketika usiaku menjelang 14 tahun itu aku mulai jatuh cinta kepadanya. Sama dia. Walaupun berpacaran dengan orang lain, si croccodile Andi, pacar pertama, tapi ORANG ANEH ini adalah cinta pertama. Mm.. sorry Al, Tan, dirimu tak terhitung karena masih dibawah 14 tshun he he he
Dia bersuara lantang dan sedikit serak. Dia tampak kasar. Dia kerap melontarkan caci dan maki. Dia bernyanyi dengan kencang. Dia pemalu. Dia Sensitif. Dia mudah tersulut emosi. Dia romantis. Dia Manis. Dia pintar. Dia bisa jika dia mau, jadi apa saja. Itu yang aku tahu. Aku punya keyakinan itu. Keyakinan besar itu. Tak pernah aku punya keyakinan pada seseorang seperti itu.
Eeeeniwei, i'm not sure what love means, but it might happening to me kan??
Cos i was verryyy addicted to him. He was my heroin. Was... suppose not anymore right now.
Masih suka terganggu. Terganggu keinginan untuk mengganggunya. hmhhhh could you please go away, off my mind..!! Hmmm sepertinya aku yang tidak mau melepasnya dari pikiran.
Ok.
Saatnya untuk menjadi waras dan normal.
Mungkin karena sampai sekarang aku belum menemukan seseorang yang bisa mengakomodir kegilaan yang tidak jauh berbeda. Bebas menjadi gila ketika bersamasama. Mungkin. Dan itu menjadikan dirinya segalanya untukku. You're my everything. Terdengar sangat gombal. Tapi itu adalah sebuah ekspresi, sebuah kebutuhan yang nyata. Dia seperti udara yang tidak bisa berhenti ku hirup demi hidup. Untuk melepasnya terasa sakit. Padahal mungkin dia bukan udara, tapi adalah kilat yang memberi warna secercah sesekali. Mengejutkan, menggetarkan. Kepala ini terasa berat membicarakannya. Aku terlalu lama masuk dalam nostalgia anganangan. Tidak pernah ada Kami or kita saat itu. Tidak pernah ada hubungan tertentu secara pasti. Aku dan dia hanya sebatas bayangan, kebersamaan sesaat, dan kesan yang sangat mendalam. Aku punya lagu ini yang selalu menginngatkan keberadaannya dulu. Perasaannya dan perasaanku dulu.
Seperti kilat, memberi kilau sesekali, menggelegar, menggetarkan, mengesankan. Berharap aku tidak terbakar hangus tersambarnya.
Hhhh
Ya udah.. ganti judul You're My Evertything - Renegade.
Damn... mules sekarang dengerin lagu ini. Aneh, diriku masih merasakan vibe yang sama ketika mendengarkannya 15 tahun yang lalu. Huhuuhuhu, membaca bukubuku tentang cerita cinta yang bersatu, membuat diri ini tambah mules juga.
I must face it. He's not belong to me.
Cedih...
Kenapa ya? Sepertinya dia begitu kuat menanam akarnya jauhhhh didalam sana. Hingga walaupun telah dipangkas, dirobohkan dan ditarik sekuatnya untuk pergi, tibatiba saat bertemu maka akar yang mungkin tertinggal dan kecil itu tumbuh cepat melesat tinggi, subur dan rindang. Hanya dalam hitungan detik. Aku tak bisa mencegahnya, tak mampu. Mungkin juga ada unsur, tak mau.
Gila ya.. selalu saja ketika aku memulai perasaan yang baru, kalau ketemu orang ini semua hancur berantakan..!!
Coba kita list dia itu bagusnya apa...?
Tinggi, banget, itu yang bikin dia dilihat sama banyak orang, karena tinggiku hanya sebatas bahunya saja. Hikss.. dulu dia lebih kecil dariku, pernah sama tinggi denganku, sekarang dia tinggi sekali. Hhhhhh...! Somehow buatku dia selalu keren sih.
Kayaknya cuma itu yang bagus, yang lain biasa. Ahh.. tidak ada yang biasa tentang dia. Dia extraordinary, dia unik, dia aneh, freak..!
Aku suka.
Untuk bicara apa yang dirasakan saat ini, aku tidak tahu. Ini tidak jelas, sangatsangat tidak jelas. Brengsekkk!! Jangkrikkk Rebusss!!! Cangcorang itemmmm!!!
uwwwhhh... dia bahkan tidak punya perasaan itu lagi. Perasaan yang diakui pernah dirasakan saat bersamasama denganku dulu. Setidaknya dia tahu, kalau aku juga punya perasaan sama dengan dia. Saat itu, 15 Tahun yang lalu ketika usiaku menjelang 14 tahun itu aku mulai jatuh cinta kepadanya. Sama dia. Walaupun berpacaran dengan orang lain, si croccodile Andi, pacar pertama, tapi ORANG ANEH ini adalah cinta pertama. Mm.. sorry Al, Tan, dirimu tak terhitung karena masih dibawah 14 tshun he he he
Dia bersuara lantang dan sedikit serak. Dia tampak kasar. Dia kerap melontarkan caci dan maki. Dia bernyanyi dengan kencang. Dia pemalu. Dia Sensitif. Dia mudah tersulut emosi. Dia romantis. Dia Manis. Dia pintar. Dia bisa jika dia mau, jadi apa saja. Itu yang aku tahu. Aku punya keyakinan itu. Keyakinan besar itu. Tak pernah aku punya keyakinan pada seseorang seperti itu.
Eeeeniwei, i'm not sure what love means, but it might happening to me kan??
Cos i was verryyy addicted to him. He was my heroin. Was... suppose not anymore right now.
Masih suka terganggu. Terganggu keinginan untuk mengganggunya. hmhhhh could you please go away, off my mind..!! Hmmm sepertinya aku yang tidak mau melepasnya dari pikiran.
Ok.
Saatnya untuk menjadi waras dan normal.
Mungkin karena sampai sekarang aku belum menemukan seseorang yang bisa mengakomodir kegilaan yang tidak jauh berbeda. Bebas menjadi gila ketika bersamasama. Mungkin. Dan itu menjadikan dirinya segalanya untukku. You're my everything. Terdengar sangat gombal. Tapi itu adalah sebuah ekspresi, sebuah kebutuhan yang nyata. Dia seperti udara yang tidak bisa berhenti ku hirup demi hidup. Untuk melepasnya terasa sakit. Padahal mungkin dia bukan udara, tapi adalah kilat yang memberi warna secercah sesekali. Mengejutkan, menggetarkan. Kepala ini terasa berat membicarakannya. Aku terlalu lama masuk dalam nostalgia anganangan. Tidak pernah ada Kami or kita saat itu. Tidak pernah ada hubungan tertentu secara pasti. Aku dan dia hanya sebatas bayangan, kebersamaan sesaat, dan kesan yang sangat mendalam. Aku punya lagu ini yang selalu menginngatkan keberadaannya dulu. Perasaannya dan perasaanku dulu.
Seperti kilat, memberi kilau sesekali, menggelegar, menggetarkan, mengesankan. Berharap aku tidak terbakar hangus tersambarnya.
Hhhh
Subscribe to:
Comments (Atom)