Total Pageviews

Tuesday, 8 December 2015

Your life, your choice

I don't wanna get attached to anyone.
I believe now, i can do everything by my self. Do not count anyone else except yourself.
I am not stupid. I am not perfect. But I can do it.
I know. I learn in a hard way. But still this is a lesson learnt.

What I need to do is focusing on everything that I can do and do.

Haters gonna hate. Love will eventually gonna hate. I can't do anything about that.

Something in life that I can do is something that i have to explore in me.

Do not try to count on anyone else.

Repeat.

Do not try to count on anyone else.

People are not the same. I'm sorry for being bitter.

Focus on your self.

Being anti social is not good. But being hang around and do nothing is not good either.
Do something to yourself.
Be pretty to your self.
Be happy for yourself.

Loving life even you don't like it. Be with yourself. Do not try to find happiness with someone else. Enjoy yourself.

You are the one that feel happiness that you found in you.

If you don't like someone else, let them be what ever they wanna be. Don't bother to talk or gosipping or discuss about it.

Just care about yourself. You've been torture yourself by not doing anything lately.

If someone hurt you, let them do whatever they wanna do. You have the ability to ignore the person so good. Do that.

Do not try to care to someone, caring is not something that you capable of.

You are a loner. Yes. You are a loner from long time ago.

Be happy on anything that you love to do. Dance? Travel? Musics?
Do! DO YOUR OWN HAPPINESS.!

You don't need anyone else to do what happiness  do to you.

Being alone is not always bad.
And sometimes it's the only options.
Be happy with yourself.

If crying is the best thing to do and make your sadness run away. Do!

Life is something that you have to do on your own.

Be brave!

Friday, 24 April 2015

Sunrise: Pieces of You : Tablo

Sunrise: Pieces of You : Tablo

Pieces of You : Tablo

Buku ini memang kucari. Lama.
Betul, buku ini terjemahan dari Pieces Of You karangan Tablo. Aku mencari tulisan aslinya dalam bahasa inggris, sayang, di booth ini mereka tak memiliki versi asli.

Tablo meraih gelar master dari tulisan ini. Kemampuannya mendapatkan 2 gelar pendidikan dalam rentang 3 tahun kuliah di Stanford membawa musibah untuknya.

Itu masa lalu, aku tahu. Karenanya aku mencari buku ini agar tahu seperti apa tulisannya. Mereka memasukkannya dalam kategori buku sastra. Aku sangat ingin tahu. Penasaran.

Membaca buku ini tanpa ekspektasi karena terjemahan, sesungguhnya aku meremehkan.

Aku harus berhenti membacanya pada halaman 26.

Di sebuah meja tempat makan, aku mulai membaca. Badanku bergidik, bulu kudukku berdiri. Aku harus menutup mata, mengangkat kepala dan menolehkannya ke kanan. Rasanya seperti tertampar. Menarik nafas panjang, dua, tiga kali. Melanjutkan  baca dan mengulang ritual itu, lagi.

Kupikir, aku harus berhenti.

Di judul pertama hingga halaman 26, aku menggambarkan anak lelaki pada keluarga itu sebagai Tablo. Rasanya aku ingin berlari dan memeluknya, serta mengatakan, berhenti! Berhentilah merasa perih. Berhentilah! Aku tahu yang kau rasakan. Aku bisa merasakan.
Lalu aku menghela nafas panjang.

Aku tidak bisa mengatakan bahwa tulisan yang dibuatnya sedih. Ini lebih dalam lagi. Aku bahkan merasakan ngilu pada tulangku, dingin pada tanganku. Aku gemetar.

Kemudian, aku mulai menarik nafas panjang, lagi.

Perasaan ini sama ketika aku membaca karya penulis Rusia yang meraih Nobel Sastra, Elfriede Jelinek dengan bukunya yang diterjemahkan oleh Ayu Utami, berjudul Sang Guru Piano. Sesudah membaca novel tebal itu rasa tidak enak mengganjal didadaku berhari-hari. Aku bahkan mengalami kesulitan bernafas, seperti ada sesuatu yang menghambat jalan nafas. Aku bahkan tak ingin membacanya lagi. Terlalu berat untuk hatiku.

Aku teringat Taufan, seorang rekan kerja di Perusahaan lama yang sempat membaca tulisanku. Saat itu ia bertanya, apakah yang aku tulis itu tentang diri sendiri? Karena ia bisa merasakan emosi yang begitu dalam, emosi yang menampar-nampar ketika membacanya.
Aku hanya tersenyum, emosi itu pernah aku rasakan tapi kukatakan, bukan, ini bukan tentangku.

Bisa jadi ini juga sama dengan Tablo, ia pernah merasai emosi ini, karena aku tertampar-tampar membaca tulisannya.

Aku akan mulai membacanya lagi, nanti. Aku tak ingin mataku membengkak dan berulangkali menghela nafas diantara ramainya orang yang menikmati makanan.

Nanti, Hanni. Bernafaslah dengan benar.

Handphone ku mati dan hanya ada secarik kertas serta pensil yang kupinjam dari kasir. Aku tak bisa menahan isi kepalaku yang berteriak-teriak ingin keluar.

Kemvil, 24 April 2015.

Tuesday, 14 April 2015

Filosofi Kopi : Curhat sehabis nonton film.

Film apa yang bisa bikin nyengir, ketawa, haru, ketawa, nyengir, nangis..?
Beberapa film sih berhasil bikin gw gundah gulana dan ketika lewat beberapa hari, lupak.
Lalu.. film ini gimana?
Gw ngga tahu jawab apa untuk itu, tapi satu yang pasti, film ini visualisasi dari mimpi gw sejak SMP karena ini tentang kopi.

Dulu, dulu banget, gw pernah bikin tulisan tentang secangkir kopi. Gw pernah agak sedikit gila sama kopi. Ah, kopi itu seteguk rasa, kenangannya banjir.
Anehnya, gw ngga pernah nyandu minum kopi, tapi gw suka, banget. Belajar minum kopi tanpa gula. Mencoba segala bentuk kopi, sampai yang fresh baru digerus dari bijinya. Pada akhirnya gw memilih kopi tubruk kapal api sebagai favorit. Oh, juga kopi cap obor. Iya, suka. Pakai sedikit gula dan tak pakai krimer tentunya.
Hal itu yang bikin gw ngga pernah suka dengan kopi starbuck, entah kenapa. Nongkrong di starbuck itu yang gw pilih pastinya ice blended frappucinno. Hahahahah. Payah.

Oh, sebelum tambah ngga jelas, mari kita mulai membahas filmnya.
Film ini dibintangi dua lelaki. Iya, keren orangnya. Iya, sexy. Iya, ganteng. Iya.. iya.. ini tentang film bukan tentang bentuk fisik pemainnya. Ah.
Kalau banyak yang bilang chemistry antara Jody dan Ben itu pas banget, gw sih setuju aja. Sayangnya entah kenapa ada yang kurang buat gw. Ngga tahu apanya, tapi mereka cukup meyakinkan sih, ada beberapa scene yang buat gw mereka kurang lepas. Minor aja sih, kalau ditanya scene mana.. mm itu lebih ke perasaan gw aja yang ngga kena di scene itu.
Bukan berarti filmnya ngga bagus, justru menurut gw belum ada yang bikin cerita sebegitu menariknya tentang pembuatan kopi. Oh satu lagi yang perlu di highlight, tanpa romansa antara lelaki dan perempuan dan sex scene or kiss scene, perasaan yang ada di film itu cukup mengaduk-aduk perasaan gw.
Apa bisa gw bilang suka sama film ini? Emm.. iya. Emm bingit keleusss..!!

Sejujurnya ada masa gw merasa (lagilagi soal perasaan gw.. *sigh*) film ini sempat ada jeda dan masuk ke zona yang lelah, terasa dipanjang-panjangkan. Iya, tepat. *spoiler* Ketika mereka berhasil memenangkan tantangan itu ternyata filmnya belum selesai, bray! Masih lanjut aja..! Gilak! Begitu yang ada dipikiran gw. Lelah eym! Hanya saja saudarasaudaraa...! Angkat Jempol empat buat Jenny Jusuf! Telah dibuat jalan cerita adaptasi dari novel Filosofi Kopi yang sarat makna dan kejutan emosional.
Gw mewek, bray..! Haruuuu!

Cerita filosofi kopi- dee lestari- itu gw yakin, hatam entah berapa juta kali. Gw ngga hapal per kata, cuma gw yakin di film, pengembangan ceritanya murni dari penulis script yang jenius, bray. Jenius!
Tentu juga dari penerjemahan script pada acting dua pemain utama tersebut.

Kopi Tiwus dan penanamnya berhasil mencuri scene. BundaTjantik a.k.a Jajang C. Noer, sempat gw ragukan bagaimana bisa menjadi orang desa yang sederhana. Cara bicara yang khas dari bunda, sangat elegant. Bukan dari seorang ibu-ibu yang tinggal didesa. Yah, gw salah sih. Menurut ngana ajalaaaaah... artis senior, ngga bisa main jadi orang sederhana? Saking sederhana dan cantiknya sampai gw yakin ibu itu tinggal di desa, berhati baik, ikhlas dan sayang anak.. ngga pake mikir lainlain.

Bapak slamet rahardjo, bisa segitu sabarnya jadi Pak Seno yang punya kebon kopi Tiwus. Kebapakan banget, sayangnya setiap kali melihat bapak itu, keliatan banget kalau kaya raya. Tampak sangat terawat, seperti juragan tanah, gitu. Meskipun diusahakan bajunya biasa aja dengan sarung yang diselempang di tubuhnya.

Bapaknya Ben, saudara-saudaraaaa...!! Bapak berambut gondrong berwarna keperakan itu..! Maafkan saya, Pak. Saya baru tahu kalau bapak nama aslinya Otig Pakis. Bapak keren banget disitu. Bapak bahkan membuat saya ingin segera pulang ke rumah orang tua saya dan membuatkan kopi untuk bapak saya. I heart You, Pak Otig Pakis.

Julie estelle, gw yakin sih doi berusaha keras acting. Berusaha supaya orang jangan cuma liat dia dari cantiknya aja. Entahlah, mungkin karena dia karakternya sebagai pelengkap, walau ada scene yang harusnya menggugah, rasanya terlalu plain buat gw. Oh, dia tidak jual wajah manis kok, dia actingnya tampak usaha kok, cuma masih belum menakjubkan buat gw. Apa mungkin karena intonasi bicaranya yang cukup tinggi yaa? Jadi terasa tidak natural, gitu.

Sekarang tentang.. *drum rolll* Ben and Jody..!
Tadi udah bilang, kan? Nonton film ini mata benar-benar dimanja oleh keindahan dari dua lelaki bintang utama. Gw ngga nyesel nonton, sekalipun jika ceritanya ngga sejenius ini.. liat tampang pemainnya gw udah drooling gitu. Hahah.

Ada masa dimana gw harus menutup mata karena ngga kuat liat mereka. Ada masa, lelaki-lelaki itu sangat sexy ketika mereka mencicip kopi. Gw mau pengsan bray. Harus banget apa gw tahan nafas waktu mereka cicip kopi? Harus banget apa gw kepanasan waktu lihat kopi panas mereka ciumi (aromanya)? Ah. Entah itu emang pikiran gw yang 'pervy'. Hati gw lemah liat scene itu. Lebih porno dari film porno buat gw. Iya, proses mereka meminum kopi buat gw sangat erotis. Okeh, itu pendapat gw yaaa.

Secara keseluruhan sih ini film gw suka, iya, bingit.

Ah udah ah, cukup. Masa isinya muji-muji aja.
Oh iya, satu lagi. Gw ngga ngerti sama teknik kamera, tapi ada beberapa saat gw merasa gambarnya goyang-goyang framenya. Semacam pegangannya ngga firm gitu. Itu bikin gw agak keganggu. Apakah itu sebenarnya kesalahan atau teknik kamera? Aku tak tahu. Maklumlah cuma nonton film aja ngga pernah bikin. Eh, mungkin nanti ada kesempatan bikin film, aku mau.

Hahah.

Thursday, 24 May 2012

ketika kecewa ...

Kekecewaan adalah sebuah virus yang menggerogoti kebaikan. Kecewa itu membuatmu menurunkan level dari harapan. Kecewa itu membuat seseorang menjadi apatis dan tak lagi mau perduli.
Kecewa itu seperti kesemutan, menunjukkan bahwa aliran darahmu terjepit dan tak mengalir dengan benar.
Kecewa itu seperti mengisi sebuah pipa bolong dengan air terus menerus.
Kecewa itu seperti pengikisan area pantai oleh lautan.
Kecewa itu seperti menahan tangis yang sudah tak tertahan.
Kecewa itu… kecewa itu seperti menginginkan seporsi makanan yang sudah didepan mata tapi terjatuh berceceran di tanah tak bisa dimakan.
Kecewa itu ketika daun menanti hujan yang tak kunjung datang.
Kecewa itu ketika dua mata sehat tapi tak mampu melihat.
Kecewa itu seperti ingin pergi tapi kaki tak bisa bergerak, tak terikat tapi tak bisa bergerak.
Kecewa itu ketika berusaha tampil tapi tak ada yang peduli.
Kecewa itu ketika berusah sekuatkuatnya tapi dianggap remeh.
Kecewa itu ketika hujan begitu deras dan tidak ada tempat berteduh dan angin kencang.
Kecewa itu tidak enak.

Tuesday, 10 January 2012

bukan temanku

Sudah, pergi saja. Bawa senyummu yang tak tersembunyi itu jauh. Senyum itu memberikan gatal pada luka lecet  ini. Senyum geli yang menggerogoti itu. Mungkin kamu tidak palsu, tapi jelas bukan temanku.

Wednesday, 5 October 2011

Pasir putih, pohon kelapa, suara ombak dan langit biru.


Oh Please don’t you rock my boat…. dan lagu ini terngiang-ngiang di kepalaku ketika boat Menggala 3 berjalan dengan dua mesin balingbaling.

Ya, kali ini aku tidak berkelompok. Sendiri dan tak kenal dengan orangorang sekitar. Suasana yang berbeda. Guide leadernya begitu ramah, hingga tanpa sadar kemudian aku berbicara dengan hampir semua orang di dalam boat yang tak begitu besar itu. Betapa cepat sebenarnya aku terinfeksi oleh kehangatan orangorang ini. Ikut tertawa dengan lawakan ketinggalan zaman yang renyah dari para orangtua.

Walau bagaimanapun aku berada di antara kelompok orang yang sudah saling mengenal sebelumnya. Dari senyum yang entah kenapa tak terasa terpaksa mendengar cerita dan guyonan yang ajaib itu aku mendapatkan perhatian mereka, ditawari makan, minum, diajak duduk bersama dan mereka mulai bercerita tentang halhal lampau yang tak terjangkau pikiranku. Aku merasa perjalanan sampai di Pulau itu tak begitu lama.

Satu per satu kegiatan di mulai. Begitu banyak waktu luang. Aku kembali merasa bosan dan sendiri. Beruntung aku membawa Petir yang di pinjamkan oleh teman adikku. Terbantu dengan suara angin dan cekikikan yang terdengar mencurigakan oleh para orang tua itu. Akhirnya mereka mengacaukan acara membaca ini. Aku pun kembali berkumpul dengan mereka.

Lelaki pantai itu berkulit coklat pekat dari sinar matahari yang terasa hangat. Menggunakan celana pendek dan kaos merah mengajakku berjalan mengitari pulau. Dia adalah guide di Pulau ini dan juga seorang penyelam yang layak diandalkan. Kemudian sampailah di sebuah kolam renang yang berhadapan dengan laut. Para peserta melakukan pemanasan dengan berenang didalamnya, sementara lelaki itu mengambil tempat untuk meluruskan tubuh memakai kacamata hitamnya dan kemudian tertidur sambil menikmati suara ombak. I noticed him since the first time I saw him, sexy.

Tak lama sesudah berkeliling dari satu pulau ke pulau lain dan tujuan utamaku tersampaikan. Aku merasa lelah. Tertidur dengan cepat dan melupakan acara barbeque yang dikabarkan akan fantastis.

Keesokan harinya, lelaki pantai ini dengan kaos oranye terang pertanda crew dan celana pendek datang kepadaku dan bertanya mengapa aku bisa tidak datang diacara tersebut. Mata itu memandangku kecewa. Ah, berulangkali kukatakan maaf, aku ketiduran. Dia hanya tersenyum setengah terpaksa. Sementara seorang bapak memujinya dengan begitu tinggi karena barbeque itu terenak yang pernah dirasakannya padahal dia telah berulangkali pergi ke Papua dan Makasar yang memiliki kekuatan ikan bakar yang hebat, dan barbeque tadi malam, sangat berkesan. Aku memandang matanya dengan perasaan bersalah, maaf.

Tak lama acara snorkeling di mulai. Snorkeling for beginner seorang guide untuk snorkeling menjelaskan bagaimana cara untuk bernafas, menggunakan peralatan dengan benar dan aturan yang aman untuk melakukan snorkeling ini. Aku terkesan, biasanya ketika saatnya snorkeling maka kami akan dibawa langsung menuju spot dan dibiarkan mengapung memandangi dunia bawah laut itu sendiri, sebebasnya.

Aku mulai snorkeling itu sendiri di pinggir pantai, tak lama lelaki pantai itu mengajakku bersama, ayo kita ketengah. Dia memberikan tangannya kepadaku. Aku meraihnya dan dia membawaku dengan cepat ke tengah. Dia biarkan tanganku menggenggam lengannya, karena terkadang akan lebih mudah jika aku menarik lengan itu daripada harus ikut berenang mengitari spot tempat belajar . Tak ada karang yang benar benar bisa dilihat.

Guide leader pun memberikan aba-aba untuk segera kembali ke kapal untuk menuju spot soft coral yang sebenarnya. Aku pun duduk manis di boat tanpa banyak bicara. Sendiri. Well, aku memang datang sendiri, kan?

Spot snorkeling itu tampak sangat menggoda, aku dengan segera turun dan mengapung memandangi ikanikan yang merubungi remahremah biskuit. Indahnya. Ikan cantik dan karangnya warnawarni..! Aku seperti menemukan duniaku, aku, ikanikan cantik dan karang Indah, luar biasa! Keindahan yang menggetarkan. Hingga tanpa sadar aku sudah jauh dan mengelilingi kapal itu sendirian. Sepertinya aku tak memerlukan orang lain, ini surga lautku.

Tibatiba aku merasa namaku dipanggil. Ya, lelaki coklat pekat itu memanggil namaku memberikan tangannya dan mengajakku berkeliling. Tangannya terentang kearahku, aku memegang lengannya lalu aku merasa dia meraih tanganku dan menggenggamnya. Yaa! Dia menggenggam tanganku dan membawaku berkeliling melihat keindahan bawah laut itu, menjauh dari kelompok yang lain. Oh, aku tak sendiri memandang keindahan laut itu. Oh, aku tak tahu jika genggamannya bisa membuatku merasa dunia laut ini jauh lebih Indah. Hatiku berdebar. Aku tak lagi menarik lengannya karena tanganku dan tangannya saling menggenggam bersisian. Begitu kencang debar jantungku hingga aku bergerak mengimbangi kecepatannya, tidak lagi membiarkannya berenang sendiri dan hanya menarik lengannya. Aku, ikanikan cantik, karang Indah dan genggaman tangan itu. Genggaman tangan yang seakan berkata, ‘I promise you, I won’t let go’. Seseorang menggenggam tanganku dan membawaku melihat pemandangan Indah yang tak biasa itu. Ya.. bawa aku berkeliling lebih lama. Hatiku tertinggal di tempat itu.

Dan rasanya aku mendengar Bob Marley bernyanyi dengan hatinya yang reggae…

Oh, please don't you rock my boat

'Cause I don't want my boat to be rockin'

I'm telling you that, oh, oh-ooh, wo-o-wo!

I like it - like it this

So keep it steady, like this.

And you should know - you should know by now:

I like it like this, ooh yeah!

You satisfy my soul

Every little action

there's a reaction

Oh, can't you see what you've done for me, oh, yeah!

I am happy inside all of the time. Wo-oo-o-oo!

….

Whoa, child! Can't you see? You must believe me!

Oh darling, darling, I'm calling, calling:

Can't you see? Why won't you believe me?

Oh, darling, darling, I'm calling, calling



When I meet you around the corner,

Oh, I said, "Baby, never let me be a loner",

And then you hold me tight, you make me feel all right.

Yes, when you hold me tight, you made me feel all right.

….

….

Laut biru cerah, ikan cantik, karang warnawarni, sinar matahari dan genggaman lelaki pantai itu…

Soundtrack for this scene: satisfy my soul – Bob Marley