Menyeruput kopi yang sudah dingin, setelah menguap, tak banyak perubahan.
Musik yang mengalun pelan dan melenakan ini membuat tubuhku begitu rileks sehingga mataku ingin segera tertidur.
Musik ini menarikku dalam dunia imaji tinggi, khayal dan gambar melewati mataku. Keinginan travelling yang begitu jauh, sendiri, ada lagi.
Aku ingin pergi sendiri menikmati dunia ini. Menikmati pemandangan dengan mataku yang lelah ini. Melihat sesuatu yang bisa ku nikmati dengan desahan nafas takjub, yang kadang tak bisa dirasakan oleh orang lain.
Aku hidup dalam khayal, tak nyata, impian, harapan, tumpah ruah merajalela. Membangun kerajaan bernama super khayal, kehidupan yang menyenangkan. Perjalanan kehidupan yang terasa bagai surga. Menggelora, membakar diri, menjadi hidup, hidup, hidup!!
Aku ingin pergi mengeksplor tempattempat, bertemu orang, memberi senyum.. berhati mulia. Menjauh dari hedonisme dan befoyafoya…
Bisa..? Bisabisabisabisabisabisabisabisabisa..!!!
Bisa… #dengan suara bak Edward cullen... hihihihi
Live your life, your journey, learn!
Everything, anything.
Absorb everything good around you… life is beautiful!
ehem
Ada sesuatu dihatiku, aku ingin cerita.
Jika kau ingin tahu, aku akan menceritakannya.
Ketika aku jatuh cinta pada lelaki, aku selalu setia padanya.
Bahkan ketika dia telah mencampakkan aku, masih saja aku tak bisa menatap dalam matanya. Aku luluh dan kembali dalam nostalgia, beranganangan dan berandaiandai.
Ketika aku dengan sepenuh hati merelakannya, bukan milikku, bukan berarti aku tidak mencintainya.. perasaan itu begitu dalam dan mengikat. Maaf, ini bukan kebodohan. Ini hanya perasaan (ai.. ai.. tetep bodoh sih xixixi). Ketika aku merelakannya, itu adalah sebuah pilihan.
Aku tidak mau terjebak dalam perasaan lelah dan tertekan, apapun itu masalahnya, jika dia memang tak lagi untukku. Bukan juga karena aku tak berusaha untuk tetap memilikinya. Mungkin aku terlalu mencintai diriku sendiri, karena itu aku tak mau lagi merasa lelah.
Melankoli. Sebenarnya aku tidak serapuh kedengarannya. Karena aku terlatih. Terlatih oleh rasa lelah dan perih. Setiap kali lelah, hatiku hancur. Aku begitu menyayangi hatiku. Bentuknya sudah tak karuan, kini. Bisa karena cinta, bisa karena benci, sakit hati, oleh siapapun. Mereka bilang, orang terdekatmu adalah orang yang berpotensi paling besar menyakitimu begitu dalam.
Karenanya aku begitu takjub dengan kematian. Kematian adalah perginya Roh dari tubuhmu, roh yang begitu mencintai jasadmu. Aku mencintai diriku. Diri yang tak sempurna ini, diri yang begitu semrawut dengan bentuk acak kadut. Aku kadang berkhianat dengan memberinya minum dan makanan yang menyiksa. Membuatnya sakit. Bermalasmalasan tanpa memikirkan bentuknya yang semakin tak jelas. Ah betapa sebenarya aku menyakiti diri sendiri.
Aku, kemudian merasa dirimu itu jadi berarti ketika kau tak hidup hanya untukkmu sendiri. Aku merasa kehilangan cinta dari seorang lelaki. Dan kemudian hidupku mulai tak menentu, merasa tak berarti. Aku lupa ada roh yang akan meninggalkan jasad, kau tak sendiri.
Tak lama aku disadarkan tanpa sengaja oleh surah Adh Dhuha ayat 1-3, ‘Demi waktu pagi / Dan demi waktu malam ketika sunyi sepi/ sesungguhnya tiada sekalikali Tuhanmu meninggalkanmu dan Tiada sekalikali Ia Murkakanmu’ membacanya aku menangis tersedu. Tidaklah aku itu sendiri, hidup dalam ketakberdayaan, emosi yang berantakan. Aku juga hidup untuk diriku, dan Tuhanku yang begitu mencintaiku… dan aku terkulai malu. Betapa sombong dan egois aku ini. Emosi yang naik turun itu. Dahsyat memang ketika aku menyadarinya. Aku lebih tenang. Aku lebih senang. Hatiku terasa begitu lapang. Aku mampu tersenyum tulus ketika emosi memuncak. Hidup lebih menyenangkan.
Dan kemudian, orang terdekat adalah orang yang berpotensi tinggi menyakitimu begitu dalam. Sengaja atau tidak… walaupun kemudian hancur, jika berhubungan dengan darah, maka darah jauh lebih kental dari air. Lalu kau tak bisa membenci keterikatan darah, karena darah jauh melekat dan mengaliri setiap organ tubuhmu. Tak bisa berdamai dengan itu kemudian kau akan sangat membenci hidupmu. ‘Mengapa harus darah ini yang mengaliri tubuhku? Mengapa harus aku yang merasakan ini. Mengapa hidupku harus terasa seperti ini? Mengapa aku..?’ dan pertanyaan ini akan terus berulang di kepala tak mau hilang. Membuat hidup semakin berat.
Aku tak bisa berkata hal indah mengenai ini. Hidup terasa sangat keras dengan pekerjaan yang tiada henti, pikiran yang penuh, hati yang lelah dan fisik yang berteriak minta istirahat. Maaf, hidupmu menyedihkan.
Hanya saja, bukan hanya satu orang yang merasakan hal seperti ini. Bukan satu, bukan hanya kamu. Masalah ini tidak eksklusif.
Orang terdekatmu adalah orang yang paling berpotensi menyakitimu.
Sadarkah kalau roh mu akan lepas dari tubuhmu, sesuatu yang sangat dekat, melekat padamu, menyatu saat ini seakanakan kalian adalah satu? Rohmu akan pergi, dan aku sangat percaya itu. Sadarkah akan apa yang kau lakukan juga menyakiti tubuhmu? Aku tak selalu menyadari itu. Aku selalu berpikir, segala sesuatu yang ku perbuat adalah urusanku, tanggung jawabku, rusaknya aku toh hanya aku. Sakit secara fisik, sakit hati, tubuh lelah...
Lupa, kalau nanti tubuh ini akan aku tinggalkan, tanggung jawab tetap mengiringi kemanapun pergi. Mereka bilang tak selamanya mati itu menyakitkan, mm I don’t buy it. Dan aku memandang bahwa kematian adalah sebuah eksotisme yang sangat menakjubkan. Ketika roh itu pergi dari tubuh yang selama ini menemani. Ketika nafas tersekat di kerongkongan, ketika semua tubuh bergetar dan menggelepar. (Well, everybody will have their own style when their die). Sementara selama ini terus saja menyakiti diri sendiri, dan tak menikmati indahnya hidup.
Berhentilah berteriak pada diri sendiri. Mulailah buat dirimu nyaman. Bukan berarti bermalasmalasan. Tapi membuatnya menikmati hidup. Karena jika tidak, maka ketika kau mati tak lagi hidup yang dinikmati, hanya sisa tanggung jawab saja.. apalagi kalau hanya sekedar diam dan numpang lewat, cenderung merasa sedih terus menerus, mempertanyakan perjalanan hidup. Menjalani hidup yang orang bilang adalah pilihan, and you got it damn right! to choose the right way in life are the hardest thing!!
Kau tahu? Aku hampir sangat percaya bahwa berbuat baik itu baik. Walau kemudian tak dibalas dengan baik, walau kemudian orang berpikir bahwa perbuatan baik itu siasia, walau ternyata berbuat baik itu tidak dianggap baik. Aku hampir sangat percaya dengan seluruh hatiku, sampai aku terbawa oleh emosi jiwa tingkat tinggi, frustasi, begitu mudahnya amarah membabi buta menguasai hati. Tak lama jiwaku jadi tak sabaran. Sesungguhnya, aku sangat sabar. Aku bahkan tak mengenali diriku. Diriku yang begitu lembut dan baik ( hahaiyy..!! ). Diriku yang selalu bersyukur atas segala yang aku dapat. Diriku yang selalu melayani dengan senyuman. Aku jadi bringasan, bicara tanpa saringan, sehingga jika tersentil sesuatu hal maka akan meledak dengan cepat. Mulai tak menyayangi jiwaku, mulai tak menentu. Aku kehilangan. Membenci hidup, menertawakan hidup, seperti gila... mungkin sudah.
Bicara ini kesannya teori sekali sih. Aku kan juga ngga master di bidang ini, bukan juga punya solusi canggih hihihihihi... but anyway... aku masih tercengang betapa orang bisa berubah dengan cepat, nanti insyaf trus ulang lagi, insyaf lagi, eh ngulang lagi.. terussss begitu! Sampai capek sendiri. I did that many times.
Pas lagi mellow sadar lagi, trus.. ngulang lagi halahhh.. capek tahu....!!
Akhirnya setelah ngobrol dengan banyak orang mengenai hal ini, kesimpulannya satu kok, ngga jauhjauh. Ikhlas.. memasrahkan diri dengan hasil yang ada, tapi bukan berarti ngga nyoba. Itu bener lho..! Bukan berarti hanya bermain di zona aman ya.. kalau sudah di zona aman mah, biasanya ngga mah ngga mau nyoba kan..?
Tapi... hehehe manusia pada dasarnya suka gemblungg, nanti ikhlas, nanti ngga... berdamai dengan hati yang sakit, nanti mau terima, nanti tetebh emosi jiwa.. haahh... semuanya teori.
Cumaa.. kalau diikutin rasanya enakan lho.. tenang lho... lebih nyadar lho.. lebih ringan kepalanya.. lebih ringan senyumnya.. hehehehehe
seruput kopi lagi ah.. mmhhh udah dinginn, ngantuk.
Oalahhh... ini tulisan ada yang baca ya...? kok mau sih baca.. hahahaha...