Total Pageviews

Friday, 24 April 2015

Sunrise: Pieces of You : Tablo

Sunrise: Pieces of You : Tablo

Pieces of You : Tablo

Buku ini memang kucari. Lama.
Betul, buku ini terjemahan dari Pieces Of You karangan Tablo. Aku mencari tulisan aslinya dalam bahasa inggris, sayang, di booth ini mereka tak memiliki versi asli.

Tablo meraih gelar master dari tulisan ini. Kemampuannya mendapatkan 2 gelar pendidikan dalam rentang 3 tahun kuliah di Stanford membawa musibah untuknya.

Itu masa lalu, aku tahu. Karenanya aku mencari buku ini agar tahu seperti apa tulisannya. Mereka memasukkannya dalam kategori buku sastra. Aku sangat ingin tahu. Penasaran.

Membaca buku ini tanpa ekspektasi karena terjemahan, sesungguhnya aku meremehkan.

Aku harus berhenti membacanya pada halaman 26.

Di sebuah meja tempat makan, aku mulai membaca. Badanku bergidik, bulu kudukku berdiri. Aku harus menutup mata, mengangkat kepala dan menolehkannya ke kanan. Rasanya seperti tertampar. Menarik nafas panjang, dua, tiga kali. Melanjutkan  baca dan mengulang ritual itu, lagi.

Kupikir, aku harus berhenti.

Di judul pertama hingga halaman 26, aku menggambarkan anak lelaki pada keluarga itu sebagai Tablo. Rasanya aku ingin berlari dan memeluknya, serta mengatakan, berhenti! Berhentilah merasa perih. Berhentilah! Aku tahu yang kau rasakan. Aku bisa merasakan.
Lalu aku menghela nafas panjang.

Aku tidak bisa mengatakan bahwa tulisan yang dibuatnya sedih. Ini lebih dalam lagi. Aku bahkan merasakan ngilu pada tulangku, dingin pada tanganku. Aku gemetar.

Kemudian, aku mulai menarik nafas panjang, lagi.

Perasaan ini sama ketika aku membaca karya penulis Rusia yang meraih Nobel Sastra, Elfriede Jelinek dengan bukunya yang diterjemahkan oleh Ayu Utami, berjudul Sang Guru Piano. Sesudah membaca novel tebal itu rasa tidak enak mengganjal didadaku berhari-hari. Aku bahkan mengalami kesulitan bernafas, seperti ada sesuatu yang menghambat jalan nafas. Aku bahkan tak ingin membacanya lagi. Terlalu berat untuk hatiku.

Aku teringat Taufan, seorang rekan kerja di Perusahaan lama yang sempat membaca tulisanku. Saat itu ia bertanya, apakah yang aku tulis itu tentang diri sendiri? Karena ia bisa merasakan emosi yang begitu dalam, emosi yang menampar-nampar ketika membacanya.
Aku hanya tersenyum, emosi itu pernah aku rasakan tapi kukatakan, bukan, ini bukan tentangku.

Bisa jadi ini juga sama dengan Tablo, ia pernah merasai emosi ini, karena aku tertampar-tampar membaca tulisannya.

Aku akan mulai membacanya lagi, nanti. Aku tak ingin mataku membengkak dan berulangkali menghela nafas diantara ramainya orang yang menikmati makanan.

Nanti, Hanni. Bernafaslah dengan benar.

Handphone ku mati dan hanya ada secarik kertas serta pensil yang kupinjam dari kasir. Aku tak bisa menahan isi kepalaku yang berteriak-teriak ingin keluar.

Kemvil, 24 April 2015.

Tuesday, 14 April 2015

Filosofi Kopi : Curhat sehabis nonton film.

Film apa yang bisa bikin nyengir, ketawa, haru, ketawa, nyengir, nangis..?
Beberapa film sih berhasil bikin gw gundah gulana dan ketika lewat beberapa hari, lupak.
Lalu.. film ini gimana?
Gw ngga tahu jawab apa untuk itu, tapi satu yang pasti, film ini visualisasi dari mimpi gw sejak SMP karena ini tentang kopi.

Dulu, dulu banget, gw pernah bikin tulisan tentang secangkir kopi. Gw pernah agak sedikit gila sama kopi. Ah, kopi itu seteguk rasa, kenangannya banjir.
Anehnya, gw ngga pernah nyandu minum kopi, tapi gw suka, banget. Belajar minum kopi tanpa gula. Mencoba segala bentuk kopi, sampai yang fresh baru digerus dari bijinya. Pada akhirnya gw memilih kopi tubruk kapal api sebagai favorit. Oh, juga kopi cap obor. Iya, suka. Pakai sedikit gula dan tak pakai krimer tentunya.
Hal itu yang bikin gw ngga pernah suka dengan kopi starbuck, entah kenapa. Nongkrong di starbuck itu yang gw pilih pastinya ice blended frappucinno. Hahahahah. Payah.

Oh, sebelum tambah ngga jelas, mari kita mulai membahas filmnya.
Film ini dibintangi dua lelaki. Iya, keren orangnya. Iya, sexy. Iya, ganteng. Iya.. iya.. ini tentang film bukan tentang bentuk fisik pemainnya. Ah.
Kalau banyak yang bilang chemistry antara Jody dan Ben itu pas banget, gw sih setuju aja. Sayangnya entah kenapa ada yang kurang buat gw. Ngga tahu apanya, tapi mereka cukup meyakinkan sih, ada beberapa scene yang buat gw mereka kurang lepas. Minor aja sih, kalau ditanya scene mana.. mm itu lebih ke perasaan gw aja yang ngga kena di scene itu.
Bukan berarti filmnya ngga bagus, justru menurut gw belum ada yang bikin cerita sebegitu menariknya tentang pembuatan kopi. Oh satu lagi yang perlu di highlight, tanpa romansa antara lelaki dan perempuan dan sex scene or kiss scene, perasaan yang ada di film itu cukup mengaduk-aduk perasaan gw.
Apa bisa gw bilang suka sama film ini? Emm.. iya. Emm bingit keleusss..!!

Sejujurnya ada masa gw merasa (lagilagi soal perasaan gw.. *sigh*) film ini sempat ada jeda dan masuk ke zona yang lelah, terasa dipanjang-panjangkan. Iya, tepat. *spoiler* Ketika mereka berhasil memenangkan tantangan itu ternyata filmnya belum selesai, bray! Masih lanjut aja..! Gilak! Begitu yang ada dipikiran gw. Lelah eym! Hanya saja saudarasaudaraa...! Angkat Jempol empat buat Jenny Jusuf! Telah dibuat jalan cerita adaptasi dari novel Filosofi Kopi yang sarat makna dan kejutan emosional.
Gw mewek, bray..! Haruuuu!

Cerita filosofi kopi- dee lestari- itu gw yakin, hatam entah berapa juta kali. Gw ngga hapal per kata, cuma gw yakin di film, pengembangan ceritanya murni dari penulis script yang jenius, bray. Jenius!
Tentu juga dari penerjemahan script pada acting dua pemain utama tersebut.

Kopi Tiwus dan penanamnya berhasil mencuri scene. BundaTjantik a.k.a Jajang C. Noer, sempat gw ragukan bagaimana bisa menjadi orang desa yang sederhana. Cara bicara yang khas dari bunda, sangat elegant. Bukan dari seorang ibu-ibu yang tinggal didesa. Yah, gw salah sih. Menurut ngana ajalaaaaah... artis senior, ngga bisa main jadi orang sederhana? Saking sederhana dan cantiknya sampai gw yakin ibu itu tinggal di desa, berhati baik, ikhlas dan sayang anak.. ngga pake mikir lainlain.

Bapak slamet rahardjo, bisa segitu sabarnya jadi Pak Seno yang punya kebon kopi Tiwus. Kebapakan banget, sayangnya setiap kali melihat bapak itu, keliatan banget kalau kaya raya. Tampak sangat terawat, seperti juragan tanah, gitu. Meskipun diusahakan bajunya biasa aja dengan sarung yang diselempang di tubuhnya.

Bapaknya Ben, saudara-saudaraaaa...!! Bapak berambut gondrong berwarna keperakan itu..! Maafkan saya, Pak. Saya baru tahu kalau bapak nama aslinya Otig Pakis. Bapak keren banget disitu. Bapak bahkan membuat saya ingin segera pulang ke rumah orang tua saya dan membuatkan kopi untuk bapak saya. I heart You, Pak Otig Pakis.

Julie estelle, gw yakin sih doi berusaha keras acting. Berusaha supaya orang jangan cuma liat dia dari cantiknya aja. Entahlah, mungkin karena dia karakternya sebagai pelengkap, walau ada scene yang harusnya menggugah, rasanya terlalu plain buat gw. Oh, dia tidak jual wajah manis kok, dia actingnya tampak usaha kok, cuma masih belum menakjubkan buat gw. Apa mungkin karena intonasi bicaranya yang cukup tinggi yaa? Jadi terasa tidak natural, gitu.

Sekarang tentang.. *drum rolll* Ben and Jody..!
Tadi udah bilang, kan? Nonton film ini mata benar-benar dimanja oleh keindahan dari dua lelaki bintang utama. Gw ngga nyesel nonton, sekalipun jika ceritanya ngga sejenius ini.. liat tampang pemainnya gw udah drooling gitu. Hahah.

Ada masa dimana gw harus menutup mata karena ngga kuat liat mereka. Ada masa, lelaki-lelaki itu sangat sexy ketika mereka mencicip kopi. Gw mau pengsan bray. Harus banget apa gw tahan nafas waktu mereka cicip kopi? Harus banget apa gw kepanasan waktu lihat kopi panas mereka ciumi (aromanya)? Ah. Entah itu emang pikiran gw yang 'pervy'. Hati gw lemah liat scene itu. Lebih porno dari film porno buat gw. Iya, proses mereka meminum kopi buat gw sangat erotis. Okeh, itu pendapat gw yaaa.

Secara keseluruhan sih ini film gw suka, iya, bingit.

Ah udah ah, cukup. Masa isinya muji-muji aja.
Oh iya, satu lagi. Gw ngga ngerti sama teknik kamera, tapi ada beberapa saat gw merasa gambarnya goyang-goyang framenya. Semacam pegangannya ngga firm gitu. Itu bikin gw agak keganggu. Apakah itu sebenarnya kesalahan atau teknik kamera? Aku tak tahu. Maklumlah cuma nonton film aja ngga pernah bikin. Eh, mungkin nanti ada kesempatan bikin film, aku mau.

Hahah.