Buku ini memang kucari. Lama.
Betul, buku ini terjemahan dari Pieces Of You karangan Tablo. Aku mencari tulisan aslinya dalam bahasa inggris, sayang, di booth ini mereka tak memiliki versi asli.
Tablo meraih gelar master dari tulisan ini. Kemampuannya mendapatkan 2 gelar pendidikan dalam rentang 3 tahun kuliah di Stanford membawa musibah untuknya.
Itu masa lalu, aku tahu. Karenanya aku mencari buku ini agar tahu seperti apa tulisannya. Mereka memasukkannya dalam kategori buku sastra. Aku sangat ingin tahu. Penasaran.
Membaca buku ini tanpa ekspektasi karena terjemahan, sesungguhnya aku meremehkan.
Aku harus berhenti membacanya pada halaman 26.
Di sebuah meja tempat makan, aku mulai membaca. Badanku bergidik, bulu kudukku berdiri. Aku harus menutup mata, mengangkat kepala dan menolehkannya ke kanan. Rasanya seperti tertampar. Menarik nafas panjang, dua, tiga kali. Melanjutkan baca dan mengulang ritual itu, lagi.
Kupikir, aku harus berhenti.
Di judul pertama hingga halaman 26, aku menggambarkan anak lelaki pada keluarga itu sebagai Tablo. Rasanya aku ingin berlari dan memeluknya, serta mengatakan, berhenti! Berhentilah merasa perih. Berhentilah! Aku tahu yang kau rasakan. Aku bisa merasakan.
Lalu aku menghela nafas panjang.
Aku tidak bisa mengatakan bahwa tulisan yang dibuatnya sedih. Ini lebih dalam lagi. Aku bahkan merasakan ngilu pada tulangku, dingin pada tanganku. Aku gemetar.
Kemudian, aku mulai menarik nafas panjang, lagi.
Perasaan ini sama ketika aku membaca karya penulis Rusia yang meraih Nobel Sastra, Elfriede Jelinek dengan bukunya yang diterjemahkan oleh Ayu Utami, berjudul Sang Guru Piano. Sesudah membaca novel tebal itu rasa tidak enak mengganjal didadaku berhari-hari. Aku bahkan mengalami kesulitan bernafas, seperti ada sesuatu yang menghambat jalan nafas. Aku bahkan tak ingin membacanya lagi. Terlalu berat untuk hatiku.
Aku teringat Taufan, seorang rekan kerja di Perusahaan lama yang sempat membaca tulisanku. Saat itu ia bertanya, apakah yang aku tulis itu tentang diri sendiri? Karena ia bisa merasakan emosi yang begitu dalam, emosi yang menampar-nampar ketika membacanya.
Aku hanya tersenyum, emosi itu pernah aku rasakan tapi kukatakan, bukan, ini bukan tentangku.
Bisa jadi ini juga sama dengan Tablo, ia pernah merasai emosi ini, karena aku tertampar-tampar membaca tulisannya.
Aku akan mulai membacanya lagi, nanti. Aku tak ingin mataku membengkak dan berulangkali menghela nafas diantara ramainya orang yang menikmati makanan.
Nanti, Hanni. Bernafaslah dengan benar.
Handphone ku mati dan hanya ada secarik kertas serta pensil yang kupinjam dari kasir. Aku tak bisa menahan isi kepalaku yang berteriak-teriak ingin keluar.
Kemvil, 24 April 2015.
No comments:
Post a Comment