Hai teman....
Setelah mengenalmu beberapa saat, aku terserang kebingungan. Kebingungan yang memusingkan. Aku tidak suka hal yang memusingkan. Aku lebih suka hal yang menyenangkan.
Beberapa hal personal, pernah kita bagi bersamasama. Aku dengan kepolosan dan dirimu dengan beragam kelakuan.
Mungkin saja aku egois, karena lebih suka berbagi hal yang menyenangkan, membuat tertawa, kegaringan yang mempesona. Mempesona karena membuat kalian tertawa. Hati yang sering berubah suasana kadang membuat kita terkadang lebih diam agar tak terjadi konflik.
Teman, aku suka saat bersamasama denganmu.
Namun engkau menjadi aneh, teman. Mengurung diri di kamar. Berwajah masam, ketika bercerita lebih cenderung menertawakan diri sendiri. Menjadi tidak menyenangkan. Cerita tentang dirimu berseliweran seperti udara pengap, membuatku sesak napas.
Aku memang bukan orang yang begitu hebat bergaul, bukan juga begitu pandai membaca suasana hati. Teman, Aku tahu rasanya patah hati.
Perih.
Karena pernah terasa begitu perih, dan pernah terseret masa berkabung yang sangat panjang maka: Ya, aku mengenal rasa itu. Aku tahu dirimu merasakan hal itu. Aku temanmu, bukan mantan kekasih dan tak pernah jadi kekasihmu, mengapa kau juga harus menutup diri?
Aku tidak mengenal masa lalu dirimu. Aku mengenalmu saat berteman bersamaku, dan itu menyenangkan. Mengapa harus berubah jadi tidak menyenangkan?
Aku pernah menutup diri sebegitu rupa dan itu tidak menyenangkan. Hidup kita hanya sekali di dunia ini teman, buatlah terasa senang. Bahagia itu berasal dari hati, aku tidak bilang kalau aku jagonya ikhlas, tapi coba merelakan sesuatu dan tidak berharap akan sesuatu dengan berlebihan, cukup membantu diri berbuat setidaknya, rela.
Aku pernah membaca sesuatu: Harapan itu membunuh. Aku tidak percaya 100% karena itu membuatku tak punya harapan, tapi aku memaksimalkan usaha dan memang tak berharap banyak. Dirimu rajin sekali berdoa. Aku rasa Tuhan akan dengan bahagia menaburkan kebahagiaan atas dirimu. Bukankah Tuhan itu maha penyayang dan maha pengasih. Percayalah dengan keyakinanmu yang besar itu. Takkan ada masalah yang terlalu besar walau terasa menyeret perih sampai kedalam sumsum.
Pernah aku rasakan luka bakar skala 2.5 dari skala 5 di kaki kananku sepanjang tulang kering. Setiap kali dibersihkan aku merasa ingin pingsan. Sakitnya tak tertahankan. Sekarang luka itu sembuh, butuh setahun untuk membuat daging yang hilang itu bertumbuh, Kulit mengering dan tumbuh menjadi kulit baru. Mungkin masih perlu setahun lagi untuk membuat warna kulitnya benarbenar seperti dahulu kala walau tak 100%. Tapi sekarang pun orang masih berpikir warna yang agak berbeda di sepanjang tulang kering kaki kanan itu sudah bagus, dibandingkan ketika mereka melihat warna kulit yang terkelupas berwarna indah, merah muda.
Entah mengapa sekarang aku bergidik melihat foto pertama kulit itu dikelupas, ngeri. Saat pertama dikelupas aku tak merasa sengeri itu, saat itu yang ada dalam pikiranku adalah, aku harus sembuh secepatnya. Bahkan sebenarnya aku tak berpikir mengenai apapun. Aku hanya menjalani hari hari masa pengobatan. Tentunya berharap cepat sembuh. Saat itu yang ada dalam pikiranku hanya satu, makan. Bahkan saat masa pengobatan wajahku terlihat lebih cerah dan tentunya lebih menarik, hihihihi.
Aku tak berkata luka itu bisa dilupakan, walau bagaimanapun luka menyisakan bekas, meski tak terlalu tampak, walaupun kulit yang luka itu menjadi lebih halus, aku tak mengatakan kalau luka itu benarbenar hilang. Seiring waktu dan usaha, luka itu sembuh.
Aku pernah terluka saat terjatuh dari motor di usiaku yang ke 11 atau 12 tahun. Sebatang ranting merobek kemejaku dari atas hingga kebawah, dan memberikan garet vertikal disepanjang perut dan dada. Sekarang garet itu hilang sama sekali. Apa aku pernah lupa kalau aku pernah terluka di tempat itu? Tidak. Bekasnya tak tampak sama sekali. Luka tak membuatmu lupa. Luka bisa sembuh, dan aku percaya itu. Apakah bisa terluka lagi? Bisa. Anything could be possible. Jika kemudian terluka lagi setidaknya aku sudah tahu pertolongan pertama apa yang harus aku lakukan. Mencegah luka itu melebar dan mencoba menyembuhkannya secepat mungkin.
Terlalu banyak aku merasakan luka yang menembus kulit. Luka yang menembus hati? Aku pikir kita bisa mulai dengan terapi yang sama ketika berusaha menyembuhkan luka secara fisik. Di obati, dan berusaha sembuh. Menangis itu bukan sebuah kekalahan. Menangislah jika merasa sedih memuncak. Aku merasa ada saatnya untuk menangis, ada saatnya berhenti, dan kemudian kembali menjalani hidup.
Jangan lamalama merasa sedih. Setiap pagi niatkanlah hati untuk selalu ceria, sunggingkan senyum supaya harihari berlangsung ceria. Ayooo tarik kedua sudut bibirmu keatas, Semangat!!!
No comments:
Post a Comment