Total Pageviews

Monday, 16 February 2009

Malam yang membosankan

Malam itu dering suara handphone membangunkan aku yang nyenyak.
Bukan suara handphoneku, itu suara handphone seseorang yang aku sayangi.

Tergesa dia bangun dan menerima telepon itu. Aku berusaha menutup mata kembali dan tak bisa, karena aku medengar suara seorang lelaki yang begitu jelas dari speaker phone walaunya dia berusaha mengecilkan volumenya.

Dia tak bersuara, dan lakilaki itu terus bicara. Bicara entah apa aku tak mengerti. Karena dia yang berada disampingku hanya diam.

Ingin ku tulikan pendengaranku agar aku tak mendengar suara tawa lelaki itu dimalam sunyi ini.

Hatiku berontak ingin marah, tapi aku tak bisa. Aku berusaha tak tahu dan tak perduli.
Aku ingin sekali menghentikan telepon itu agar aku nyenyak. Hanya saja aku tak bisa, karena kurasa ada aura bahagia yang begitu memancar dari tubuhnya.

Rasanya pedih.

Aku berharap malam cepat beranjak dan pagi menyergap. Arrggghhh betapa aku benci dengan lelaki itu. Lelaki yang menelepon di tengah malam. Untuk apa? berusaha agar aku tidak tahu? berusaha menjalin kemesraan diamdiam dibelakangku?
Aku menjadi semakin ingin melakukan sesuatu yang bisa membuat lelaki itu lenyap selamanya. Dia yang berada disampingku terlena semakin jauh.

Pernah suatu malam dia katakan padaku kalau dia cinta mati dengan lelaki itu.
Aku tak bisa bicara, aku hanya diam dan rasanya mau mati. Tak cukupkah dengan segala perasaan dan perhatian dariku? Aku tak bisa melihatnya dengan kepedihan, tapi kebahagiaanya mengirisngiris hatiku. Dia menangis tergugu karena rasa rindunya tak tertahankan, membuat dadanya terasa begitu sesak.

Apa yang harus aku lakukan?
Aku begitu ingin agar lelaki itu pergi jauh dari hidupku dan hidupnya. Menemui jalan buntu.
Lelaki itu tak pernah berani menemuiku. Aku menantangnya. Siapa yang bisa membuat hidupnya bahagia? Aku tak percaya dia bisa. Karena lelaki itu begitu busuk.
Dia selalu mempermainkan perasaan orang yang terlena dengan bujuk rayunya, dengan kelakiannya. Mudahnya mendapatkan penggemar yang akan termehekmehek dengan bodohnya. Begitu mudahnya. Dari berbagai level, rendahan maupun berintelejensia dan sayangku terperangkap sebagai salah satunya.

Malam berlalu dengan penyiksaan yang membosankan.

Ketika pagi menjelang, wajahnya tampak lelah, tampak dari lingkar hitam matanya. Bibirnya menyungging senyum. dan kutahu, itu bukan karena ku.

No comments:

Post a Comment